this is about girl who love pink damned much!

this is about girl who love pink damned much!

Desember 21, 2011

Reynaldi

Namanya Reynaldi biasa di panggil Rey, laki-laki yang lagi duduk di pinggiran tempat tongkrongan tukang gorengan, batagor dan es buah pakilun, kalau di perhatikan, tingginya sekitar 170 cm bahkan lebih mungkin, beratnya kira-kira 85 kg postur tubuh yang sangat berisi, matanya bulat, hidungnya pun mancung mengarah ke bentuk bulat, punya alis yang lumayan tebal, bibirnya tipis, kalau senyum ada lesung pipinya, tapi sayangnya ia jarang tersenyum, bulu matanya lentik, giginya terpagar rapi berwarna biru, kalau berjalan pasti gayanya sangat angkuh, ia mirip sekali dengan mantan pacarku Rinaldi, hanya berbeda Rey dan Ri, tapi ciri-ciri yang rey punya sama dengan mantan pacarku, seperti duplikatnya, semuanya! Tapi perbedaannya, Rey ku akui sebagai pacar khayalanku, dan dia lebih cakep, honestly ada lagi persamaan dia dengan ex, sama-sama di jurusan broadcasting angkatan baru, sementara aku, mahasiswi tingkat akhir, yang sedang giat menyusun skripsi, lebih tepatnya sedang proses skripsi malah asyik ngeceng.
“Gila del”
Monik menyikut tanganku kencang.
“Apa sih?”
“Mirip banget sama mantan loe.”
Benar saja, semua yang ku sebutkan di atas tadi adalah cirinya, Rey dan Ri, aku hanya menghela nafas panjang, ku buang pandanganku pada bis gratis kampus yang mengantarkan kami para mahasiswa dan mahasiswinya ke bawah.
Biar ku ceritakan awal perkenalanku dengan Rey, yang sekarang malah menjadi pacar kenyataanku, mari di mulai.
Selama 2 bulan hanya saling pandang, curi pandang dan curi perhatian dengan banyak prasangka, ia selalu menenteng handphone blackberry dengan gaya angkuhnya, seperti ada sengatan listrik jika mata kami berdua beradu, kelas kami saling bersebrangan, terkadang malah berdampingan, tapi aku jaim, aku hanya bisa diam, hanya mata yang menjadi jendela hati kami berdua, ia terlalu asyik dengan perkumpulan teman-temannya, ia juga asyik dengan perempuan-perempuan di sekelilingnya, terkadang bercanda di depanku, bercengkrama seolah aku memang tak ada, ya seharusnya sih ga perlu se desperate ini ga sih Dela? Loe kan cewe popular, mau dapet cowo kaya apa sih? Model gimana? Kayanya gampang aja, asal tunjuk juga jadi kan? Tapi mau nya Cuma itu, cowok yang mirip mantan gue, Cuma itu yang gue mau! Ga mau yang lain! Semakin kesini, semakin lama, wajahnya sering terpajang manis di situ, di kursi kebangsaaannya bersama perempuan dan teman-temannya, dengan rokok yang menghiasi bibirnya yang manis, nah! Kalau urusan perempuan ini, dia selalu dekat dengan semua perempuan kelasnya, tapi aku tahu, dia memang baik ke semua nya dan bukankah sifat itu sifat yang baik? Tapi bukankah aku menjadi semakin tersingkir jika dia dekat dengan anggi, anggi perempuan yang selalu dekat dengannya, anggi yang selalu minta di antarkan pulang, diam-diam aku selalu mendengar celoteh mereka.
“Rey..anterin gue pulang dong..,kaki gue sakit, ga bisa jalan jauh.”
aku mendengarnya sambil melegos menyetop bis gratis.
Emang dasar aja baik dan perempuan itu menggoda Rey ku, ada perasaan marah atau cemburu atau semacamnya, tapi aku sadar diri, ia hanya ilusi ku, yang ku buat seolah-olah ia pacarku, hanya dalam fantasi saja, karena wajah mereka dan kelakuan keduanya yang sangat mirip, meskipun begitu Rinaldi ku tak akan pernah terganti.
Suatu siang yang cerah, ada gerombolannya sambil menghisap racun yang di namakan rokok.
“Eh, gimana tuh yang baju putih?”
Celetuk temannya entah mukanya seperti apa.
“Oke juga, tapi angkatan berapa?”
Aku tak mendengar lagi pembicaraan mereka semua, karena aku terburu-buru 10 menit lagi masuk kelas, ternyata kelasnya dan kelasku berdampingan, ia melihat ku lewat jendela, aku Cuma senyum simpul sambil menyikut monik.
“Seneng deh ketemu ayank.”
Aku makin terbahak, di colek oleh Sani, teman sekelasku yang duduknya persis di belakangku.
“Itu cowo loe? Ga rubah ya? Tetep aja gede.”
Aku makin terkekeh, asyik juga rasanya mengelabui orang-orang, tapi yang semakin menjadi tegang adalah, kalau sampai suatu hari nanti Reynaldi tahu kalau dia dijadikan objek sebagai pacar ku, pacar pura-pura, pacar ilusi, tapi begini saja sudah cukup membuat hatiku senang dan riang gembira, terima kasih Rey. J
Seusai jam pelajaran, bergegas ku turuni tangga, handphone ku jatuh dari tempat semestinya, ia mengambil handphone sambil tersenyum angkuh.
“Heh, handphone loe.”
Ku ambil cepat, tapi rasanya ingin melompat kegirangan, tapi tentu saja jauh dari tempat itu.
Sesampainya di gedung yang ku tuju, ada Rey sedang berdiri mematung melihat jauh, tapi aku tak tahu dia melihat apa, saat melewati tepat di hadapannya seketika lenganku keras di genggam, kencang dan sulit di hempas.
“Loe yang bilang kalo gue cowo loe?”
Deg! Apa ku bilang, cepat atau lambat, dia pasti tahu juga, pasti dia cari momen saat aku memang sedang sendiri, di tempat sepi dan tak banyak orang yang wara-wiri di depan gedung ini, gedung A namanya, tempat mahasiswa mengurus nilai-nilai.
“Loe semester berapa?”
Tingginya menjulang, aku hanya sebatas pundaknya, lebih pendek lagi, jadi kalau bicara pasti aku harus mendongakkan kepalaku dulu.
“Semester akhir.”
Ia masih saja kokoh dengan cengkaraman tangannya sambil memasang tampang angkuh semakin buatku meleleh.
“Loe seenaknya aja ya, ngakuin gue jadi cowo loe, lagian juga gue ga pernah tahu siapa loe, cowo loe dan semacamnya itu”
Tampang seramnya justru semakin membuat debaran jantungku tak beraturan bunyinya seperti letupan gunung berapi ingin memuntahkan lahar, oh my god! Get outta here please.
Di seberang gedung itu ada beberapa bapak-bapak keluar-masuk ruangan sambil memperhatikan keberadaan kami berdua, jujur saja, aku takut mengakui semuanya, karena aku tak mau sendiri dan kebahagiaan yang selama ini tercipta hilang begitu saja, apakah aku terlalu egois pada hatiku sendiri?
“Ehm..ehm..ehm.., loe mirip mantan gue, mirip banget!”
Ia tertunduk dan melepaskan cengkramannya, ia mengulurkan tangannya padaku tapi kemudian ia menghempasnya sendiri.
“Reynaldi”
Stuck! What a life? Speechless, nama pun kalian sama, ia duduk di pinggiran gedung A, menarik satu batang rokok lagi, menyulutnya.
“Maaf.., gue gak bermaksud lebih lanjut bilang kalau loe cowo gue, itu Cuma sementara kok.”
Ia masih bergeming, menghisap rokoknya.
“Gue minta maaf, maafin sekali lagi.”
Aku meminta maaf di depannya,sambil posisi tangan menutup keduanya membentuk kepalan yang basah karena keringat dingin, sambil memejamkan mata aku berdoa berharap ia mau mengeluarkan suara meskipun sepatah kata.
“Gue Cuma ga suka aja cara loe kaya gini, jujur aja lah, gue liat loe pertama kali tertarik, loe lucu, oke juga, tapi gue denger desas-desus setiap ada gue temen-temen loe ribut, temen-temen loe heboh, gue ga suka aja, kaya anak kecil! Padahal loe udah semester akhir.”
JLEB! Semua kata-katanya bagaikan panah yang menusuk jauh sekali ke hati, aku memang salah, seenaknya saja menjadikan dia objek untuk kebahagiaanku tanpa tahu bagaimana dengan perasaanya.
Siang yang terik itu suasana gedung A sepi, biasanya ada beberapa mahasiswa yang berseliweran depan gedung atau sekedar masuk dan keluar lagi untuk melihat rincian nilai, tapi siang ini malah sepi, padahal hari ini hari senin.
“Iya, maaf, gue Dela dan gue akan meralat semuanya.”
“Siapa suruh loe harus meralat semua omongan loe? Mau bohong apa lagi?”
Sumpah ini lelaki paling angkuh dan dingin yang pernah gue kenal, ya elah klo loe terganggu sama status ilusi tinggal gue bilang putus kan beres!
“Jadi gue harus gimana?”
“Jadi nyata aja, gampang kan?”
Ia tersenyum licik, bangkit dari duduknya, membuang puntung rokok yang tersisa sedikit, melemparnya sembarang kemudian mengenggam tanganku.
“Sekarang, ga perlu pura-pura lagi, gue pacar loe, selesai.”
Kemudian ia berlalu, melambai ke arah gerombolan temannya yang datang menyerbunya, suasana menjadi riuh, tapi itu sementara, karena teman-temannya melirik ke arahku sambil menyenggol pundak pacar ku, ya pacar yang bukan pura-pura, kamu bukan ilusi ku lagi.
Cinta memang gila, kadang tak terduga datangnya, aku jadi senyum-senyum sendiri, berawal dari pura-pura dan bencana, kemudian berubah menjadi hal yang sangat luar biasa, tak pernah di bayangkan sebelumnya kejadian ini terjadi my Reynaldy. Always be mineJ
Adalah Adella Meriyana mahasiswi tingkat akhir jurusan broadcasting sudah berstatus milik Reynaldi Monches mahasiswa tingkat baru jurusan Broadcasting, kami berbeda 3 tahun, 3 tingkat tapi kami satu cinta, temukan juga cinta di hari-hari kalian semua, terima kasih readers. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar