“Sorry ya yan, kayanya hubungan kita sampai sini saja, aku tahu kalau ini berat, tapi ini jalan terbaik buat kita berdua, kamu tahu kan kalau aku udah gak kuat ngadepin sifat kamu yang childish banget? Kamu gak pernah pengertian sama aku dan kita udah sering salah paham trus berantem, aku capek dengan semua ini yan!”
Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Rido, rasanya aku ingin marah, ingin ku tampar wajahnya dan meludahi mukanya, namun kenyataanya, aku hanya bisa tertunduk lesu sambil menatap hitamnya aspal jalanan, setetes demi setetes air mata yang terjatuh ke ujung bajuku yang tak bisa terbendung lagi, aku mematung tak bergerak, kemudian tetesan air mataku di temani oleh tetesan air yang jatuh dari langit, sial! Di saat seperti ini pun hujan masih saja setia denganku, padahal aku benci dengan hujan, sebulan yang lalu, waktu hujan, papa meninggal tertabrak truk, lalu nenek yang sedang belanja ke pasar harus buta karena terjatuh di lantai yang licin karena waktu itu sehabis hujan, tulang ekor nenek terjepit dan terbentur keras, sehingga nenek buta seketika. Hujan memang brengsek! Buktinya, sekarang pula saat aku di putuskan cinta ia masih setia bersamaku, seolah ia tertawa puas.
“aku masih sayang kamu.”
Dengan terbata-bata aku coba mengalahkan suara berisik hujan, mendongakkan kepala sambil memandang matanya, berharap masih ada kesempatan dan setitik cinta di hatinya untukku.
Namun, Rido hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berbalik menaiki motor sambil kemudian berlalu, meninggalkanku begitu saja, tanpa ada kata-kata lagi yang ia ucapkan,
Apa salah dan dosaku? Apa yang telah ku perbuat, sehingga dengan tiba-tba ia memutuskan hubungannya denganku? Sementara itu hujan masih saja mengguyur tubuhku dengan kencang, angin dingin menelusup masuk ke lubang-lubang yang ada di bajuku, apa memang ini garis hidupku yang di beri Tuhan? Terus-terusan menelan pil pahit yang membuat hatiku berlubang penuh dengan luka dan goresan-goresan silet yang tajam perlahan menyayat lengkap dengan dentuman luapan emosi yang entah harus ku simpan atau ku keluarkan?
Aku melangkah gontai menuju kamar kosanku yang letaknya tak jauh dari kampus, air mata masih terus saja mengalir tak henti-hentinya, sama dengan hujan yang mengiringi ayunan kakiku aku tak perduli dengan orang-orang sekitar yang memandangku penuh heran, ku terobos hujan sialan ini, tubuhku basah kuyup, baju, tas yang dalamnya berisi hand phone, I-pod dan berkas-berkas tugas yang harus terkumpul besok pagi, celana jins yang terasa semakin dingin, juga sepatuku semuanya dalam keadaan lusuh, ah.., aku tak kuat menjalani ini semua sendirian, terkadang terbesit keinginan untuk mati saja, menyusul papa di sorga.
Ku rebahkan tubuhku yang basah ini ke atas kasur, ku peluk guling, tangisanku semakin menjadi, rambutku sudah tak karuan karena ku acak-acak sendiri, ku tatap foto papa yang tersenyum menempel dalam pigura, ku kenang Papa seolah terjun ke masa lalu, papa orang yang sering membuatku tertawa di saat ku menangis, sewaktu kecil, papa sering menggendongku sambil kami bersenda gurau, ia juga sering membelikanku ice cream strawberry kesukaanku, bahkan sampai usiaku yang sudah menginjak 19 tahun. terkadang papa datang dalam mimpi, ia mengelus rambutku seperti biasanya yang ia lakukan setiap aku mau tidur, papa aku kangen.
Suara kicauan burung di jendela terdengar nyaring, sinar matahari menerobos dengan kencang lewat celah-celah ventilasi jendela kamarku, ku buka perlahan kedua mataku dan ku lirik jam yang ada di meja belajar! Hah? Astaga! Sudah jam 9 pagi, aku harus ke kampus setengah jam lagi mata kuliah speaking English di mulai, aku bergegas mandi dan berganti pakaian.
Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Rido, ia memakai kemeja warna biru cerah sambil menenteng helm nya berwarna ungu penuh dengan gambar tempel sehingga warna aslinya jadi kurang jelas, ia melihat kearahku dan ku lemparkan senyum yang nampaknya paling ikhlas, namun sia-sia saja, ia langsung berpura-pura mengunci motornya dan berjalan santai memandang ke arah perpustakaan, uhf.., manusia ini maunya apa? Aku tak mengerti, aku sudah mencoba untuk tidak mengingat-ingat kejadian kemarin seolah tidak ada apa-apa diantara kami berdua, tapi nampaknya dia tak pernah mau mengangapku lagi.
“maaf saya telat pak.”
Dosen killer itu memandangku dengan tatapan mata tajam.
“Duduk dan serahkan tugas mu pada saya se usai jam mata kuliah ini berakhir.”
Aku mengangguk dan memilih tempat duduk persis di sebelah Mona, teman dekatku.
Mona bicara sambil berbisik ke kupingku,
“Kemana loe tadi? Tumben pelajaran ini loe telat.”
“Gue bangun kesiangan, kemarin sore si Rido mutusin gue.”
Aku pura-pura membaca bahan presentasi kelompok sambil memainkan pulpen.
“Kok bisa sih? Padahal kan loe udah setahun sama Rido.”
“Yah, emang udah nasib kali mon.”
Mona kembali menstabilo bahan presentasi yang harus di bicarakan minggu depan di kelas.
Akhirnya 2 jam mata kuliah ini pun usai, mona mengajak ku makan mie ayam baso dan mencicipi menu baru juice strawberry dengan float ice cream di atasnya, terdengar enak dan menggiurkan.
“Pak, 2 mangkok mie ayam baso, yang satu jangan di kasih saos yah! Loe pedes gak yan?”
aku hanya menggeleng lalu memainkan sendok kecil yang ada di mangkuk sambel.
“Gue heran sama loe, kok bisa sih sampe putus sama Rido, dia kan cowok baik?”
“Gue juga gak tahu apa masalahnya dia sampe tega mutusin gue.”
“Loe gak minta penjelasan?”
“Minta.”
Ku tarik nafas panjang dan mie ayam baso sudah tersedia di depanku.
“Terus dia bilang apa?”
“Katanya, dia tuh udah gak kuat lagi dengan kelakuan childish gue, udahlah gak usah di bahas, mungkin dia emang udah punya cewek lain.”
Kami menyantap mie ayam baso dengan lahap seperti kuli panggul yang kelaparan setelah itu kami memesan juice strawberry float ice cream yang enak…banget!sampai ku habiskan 2 mug penuh.
Sepulang dari makan yang mengenyangkan, untuk sejenak, aku bisa lupa akan sosok Rido, mengapa aku sangat mencintainya? Meskipun aku selalu saja sebagai pihak yang tersakiti, aku selalu sabar ketika ia membatalkan janji nonton bioskop bersama, aku juga sabar ketika ia membentakku di mall saat aku salah memesan rasa ice cream, ia ingin ice cream coklat malah ku belikan strawberry, yang sama denganku, akhirnya ice cream itu ku makan sendiri dan lebih parahnya lagi, aku sabar ketika ia menampar pipiku saat kami bertengkar hebat gara-gara hal kecil yang sepele, aku cemburu karena di inbox hand phonenya terdapat sms dari cewek lain yang isinya sudah hampir mengarah pada perselingkuhan, aku mencoba meminta penjelasannya, tapi yang ku dapat adalah cacian dan makian yang terlontar di bibir lembutnya, aku tak berhenti memandang fotobox kami berdua yang masih menempel dalam dompetku, sambil mengenang semua kejadian-kejadian yang bisa membuatku berurai air mata.
Aku terhenyak kaget saat Mona mengguncang bahuku.
“Eh, ngapain loe bengong sambil ngeliatin foto loe berdua Rido, klo masih sayang minta balikan aja, loe gak usah gengsi, follow your heart girl.”
Ku tutup dompet berwarna pink itu dan ku masukan ke dalam tas, ku hapus air mata yang menitik di bawah kelopak mataku.
Sesampainya di kamar kos, ku pikirkan kembali kata-kata Mona tadi, aku harus mengambil tindakan, tiba-tiba saja terlintas pikiran untuk bikin surprise!
Aku menyusuri gang kecil, tempat dimana Rido ngekos sambil menenteng map pink yang berisikan kertas tulisannya,
“Would you be mine again?” dengan tulisan tanganku sambil hurufnya ku rangkai.
Sesampainya di depan kamar kosan Rido, pintu kamarnya terbuka sedikit, kemudian ku buka perlahan dan rasanya detak jantungku berhenti untuk sesaat aliran darahku meletup-letup, seakan emosi tertahan dan nafasku terasa sesak aku ingin segera lari dari kamar kosan Rido, dan menangis sekencang-kencangnya, apa yang ku lihat tadi benar-benar di luar dugaanku, ku dapati Rido tengah duduk telanjang di pinggir kasur sambil terengah-engah dan ada sosok perempuan di belakangnya sambil mengalungkan tangannya ke Leher Rido.
Aku berlari sekencang-kencangnya sambil merobek-robek tulisan itu, dan seperti biasanya, awan hitam menggelayut di kaki langit, hujan kembali dengan setia menemani serpihan hatiku yang hancur lebur dan aku tak akan pernah suka sekalipun dengan HUJAN!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar