aku adalah seorang perempuan, perempuan yang lahir dari rahim seorang pelacur,
kata orang, aku adalah anak pungut, aku anak tiri mereka, yang sekarang mengasuhku dari bayi hingga sebesar ini, mama ku yang asli entah kemana, hingga saat umurku beranjak 14 tahun, seorang perempuan kumal mendekatiku, mengatakan bahwa aku ibu kandung mu nak...
perasaanku tak karuan, perasaan berkecamuk, marah atas keadaan yang menimpaku, mengapa harus aku?
mengapa harus aku yang menjadi anak pelacur? mengapa aku tak di lahirkan seperti anak biasa? yang mempunyai keluarga lengkap, tanpa ada rahasia di dalamnya,
aku menangis, aku menangisi keadaan diriku sendiri, kenyataan hidup yang kejam, kenyataan yang orang lain mungkin tak sekuat aku bisa menghadapinya, yang belum tentu gadis seusiaku akan menerima semua ini.
lesung pipi, tirusnya wajah, lekuk matanya, bibir, semua mirip denganku, aku takut melihat wajahku di kaca, aku takut bercermin untuk melihat wajahku sendiri, aku takut, aku terus menyimpan rahasia terbesar dalam hidupku ini hampir bertahun-tahun, sampai usiaku 22 tahun.
selama waktu berjalan aku terus menyimpan rahasia hidup ini rapat-rapat, seolah-olah tak terjadi apa-apa,
sebagai anak pelacur, aku mulai bertanya-tanya, serendah itukah ibu kandung ku? lalu siapa ayahku yang sebenarnya? siapa yang menanam sperma di rahim ibu sampai lahirlah aku? anak yang di buang, anak yang yang tak di harapkan lahir, anak yang mungkin jika ke2 orangtua ku mengambilnya di samping bak sampah rumah, pasti sudah menjadi gelandangan, seperti anak-anak jalanan yang sering berkeliaran di lampu merah tengah kota, yang mengais-ngais rezeki dengan meminta-minta atau ngamen, Tuhan masih sayang, karna buktinya ia memperbolehkan aku turun ke dunia ini, mengisi kekosongan keluarga ku sekarang, menjadi harapan untuk mereka berdua, menjadi tulang punggung kelak, menjadi anak yang dapat membanggakan ibu dan Bapak.
beranjak umur 17 tahun, ketika itu aku haus akan asmara, aku haus akan buaian lelaki, aku seperti di rajai oleh nafsu berahi, saat itu payudara ku tengah berkembang bagus, dan aku jatuh cinta pada lelaki yang ku kenal lewat dunia maya, sebut saja chatting, kopi darat( ketemuan) setelah itu kami jadian, berpacaran dengan jarak jakarta-bogor bukanlah jarak yang dekat, seminggu sekali kami bertemu di taman tengah kota, di situ perawan ku hampir di rengut olehnya, suara lenguhan nafsu dan bibir yang basah karena olah raga bibir terus berjalan sampai pada akhirnya aku harus melihat hal semestinya tak pernah ku lakukan sebelumnya, aku harus melumat, menjilat, sampai pada akhirnya menyedot daging yang tengah menegang, keras dan sulit di kendalikan, urat-urat yang tengah melilit di dagingnya itu seolah liar ingin terus ku manja dengan lumatan yang membuatnya terus kencan denganku sambil meminta 'jatah'.
aku tahu, seharusnya aku tak pernah melakukan hal itu, aku tak seharusnya melakukan hal yang tidak senonoh, sungguh memalukan, aku benci pada diriku sendiri, bagaimanapun aku mandi dengan air bersih tak akan mengembalikan tubuhku yang telah di rasakan olehnya, aku kotor, sama dengan ibu ku, pelacur, anak seorang pelacur, mungkinkah perbuatan ibuku dulu seperti ini? hingga membuai ku sampai ketagihan.
tak lama hubunganku dengannya karna ternyata ia telah menemukan penggantiku yang baru, yang mungkin dapat membuatnya lebih nyaman di bandingkan dengan mulutku yang tak kuat menampung daging liar iru.
aku rindu bercinta,
aku rindu bercumbu,
aku nafsu..
aku nafsu melihat bibirmu yang mendarat di bibirku kemudian turun ke leher, dada sampai payudara dan bagian bawah seperti gundukkan gunung di tutupi hutan lebat, tak akan ada lagi yang akan menyentuh tubuhku ini, aku kehilangan pegangan, masih terbayang suara-suara nafas yang memburu membuat nafsuku semakin gila, namun sedetik setelah lamunan itu selesai aku harus menyadari bahwa dia sudah bersama wanita lain, yang pasti melakukan hal serupa sama seperti yang ia lakukan padaku, ketika memulai percintaan, kau perkenalkan siapa itu dusta, ternyata dusta semakin setia mengintaiku, aku kehilangan kendali, gontai, sehingga daging-daging yang berkeliaran itu ku biarkan masuk mulutku sampai pada akhirnya, aku hampir di perkosa, tapi aku tak semudah itu menyerahkan keperawananku padamu wahai lelaki bajingan, aku tetap jaga karna aku percaya, akan ada orang baik yang pada akhirnya akan menjaga dan memeliahara cinta yang tulus ini, selain itu, lebih dari pada cinta, keperawananku hanya boleh di cicipi oleh lelaki baik.
tapi, keyakinan ku ini tak berlangsung lama, ada lelaki lain yang menawarkan sejuta keindahan, namanya yoga, aku yang bodoh, aku yang tak pernah mau tahu siapa dia, darimana dia berasal, yang aku hanya tahu adalah ia dari kota jambi, selesai.
malam semakin pekat, di ujung kota bandung, aku menunggunya di situ, di pojok pertokoan yang masih stay tune selama 24 jam, resah dan gelisah, takut semuanya akan selesai, takut ia bertemu dengan ku karna kecewa, aku seperti pengemis yang ada di jalanan itu, mengais-ngais memohon cinta dan berharap ada yang mengasihani hati yang kehilangan, mencari pelampiasan yang bisa memuaskan, merindukan di belai dan di manja, layaknya wanita yang di cinta, pikiranku saat itu sangatlah sempit, yang ku kenal hanyalah di cinta saja itu sudah sangatlah cukup.
"ayo, aku sudah tak sabar."
"tapi, aku masih perawan, aku takut."
"Jangan takut, pasti pelan-pelan kok."
ia arahkan kemaluannya itu pada gundukkan yang lebat milikku, perih, sakit dan berdarah kemudian selesai.
itu lah yang kurasakan, tak ada kenikmatan, yang ada hanya penyesalan dan tangisan, apakah semua berakhir? bukankah aku sama dengan ibuku ? seorang pelacur, bagaimana kalau aku hamil , anak itu akankah lahir tanpa ayah?
setelah ia melakukannya, kemudian ia membereskan semua bajunya, mengangkat tasnya yang hanya berisi 3 helai, dan pergi, aku sadar, dia pasti tidak akan kembali, dia pergi untuk selamanya.
sebulan berlalu, aku belum juga datang bulan, untuk pertama kali nya test pack di tanganku menunjukan negatif, Tuhan masih sayang padaku, masih juga ia memberi kesempatan pada perempuan kotor sepertiku ini.
kurang lebih 2 tahun, ku tutup hati dan perasaanku ini, ku tutup telinga, mata hingga hati yang entah sudah melayang kemana, 2 tahun tak cukup membuat sang kesabaran hinggap di hatiku, maaf, aku tak dapat menahan gejolak nafsu yang turun-naik tak karuan, sehingga membuat dia tak sanggup lagi ada di sini.
Rendy, lelaki yang ku kenal lewat dunia maya lagi, mendatangiku untuk mencumbu, memecah rasa penasaran dan melakukan hal suka sama suka.
Tuhan, mengapa terasa nyaman sekali? inikah yang namanya kenikmatan?
banjir keringat dari tubuhku dan tubuhnya menjadikan kami lem yang sangat rapat, tak perduli pagi, siang, malam, yang kami tahu adalah bercinta itu sangatlah nikmat, buat ku melayang, baru kali ini aku benar-benar di perlakukan wanita yang sangat di hormati, di hargai, di puja-puja sampai lupa diri, bahwa daging menegang itu terus menusuk ke dalam, liar menjamah liang yang terbuka lebar, licin bercampur dengan lenguhan yang ia bisikkan pada telingaku, rendy..cinta tak semestinya begini.
selama 2 malam berturut-turut ia melakukan hal itu, sampai pada akhirnya ia mencium keningku dan menangisi atas semua yang telah kami perbuat, tepat pada hari itu ia pulang ke surabaya.
kepulangannya membuat kami menjadi orang lain, cinta yang tak lagi sama, cinta yang meluntur, cinta yang sudah selesai dan cukup hanya 3 hari saja, lebih baik ku putuskan saja hubungan dengannya, jengah tengah hadir di hati kami masing-masing, untuk apa di pertahankan? sedangkan cinta kita ingin terbang, ingin melayang dan hinggap di pundak siapa saja yang nanti akan menjadi pelabuhan terakhir kita berdua.
hey cinta,
aku tengah merajut puing-puing hati yang hancur, piring yang sudah pecah, siapa yang akan membeli?
air yang keruh siapa yang akan memakainya kembali? dan air keruh tak dapat kembali menjadi jernih..
tolonglah cinta, jangan dulu datang atau hinggap di pundak yang lemas ini,
masih banyak hati yang membutuhkan kamu cinta, bukanlah aku..
bukan aku yang baru saja terluka dan baru saja menelan pahitnya dusta yang meraja di atas cinta,
aku muak dengan cerita cinta yang berakhir seperti ini (lagi)
sudahlah..
sepertinya aku harus memberi ruang untuk sabar kembali lagi kesini, membawa sabar pulang ke tempat nya berteduh, ke tempatnya yang dulu pernah ku usir.
selamat tinggal cinta,
selamat tinggal aroma tubuh yang menyeruak seisi kamarku,
selamat tinggal puing-puing kesedihan,
selamat tinggal untuk semua kepedihan yang pernah mampir sebentar,
selamat tinggal untuk kalian sang pembawa cinta..
selamat tinggal untuk cinta yang pernah kalian bawa..
selamat datang kesabaran
selamat datang harapan
selamat datang lembaran baru
selamat datang kehidupan yang baru
selamat datang kebaikan yang kekal
terima kasih untuk semua yang telah mampir ataupun sekedar hinggap di hatiku, semua kesakitan yang kalian beri, memberikan kekuatan untukku tetap tegar sebagai anak pelacur yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, bukan menjajakan cinta, menawarkan cinta, atau sebagai pengemis cinta jalanan yang wara-wiri memungut sisa cinta yang berserakan di jalan.
perempuan tegar, kuat dan bukanlah siapa-siapa akan menjadi siapa dia? yang banyak di pertanyakan oleh banyak orang, mimpi yang tertunda akan ku lanjutkan, mimpi yang sempat ku abaikan akan segera ku selesaikan..
terima kasih cinta, kau membuatku banyak belajar tentang makna kehidupan.